5.07.13.
Semoga Semu
Sebongkah senyuman masih berjejalan ingin segera menyembul di hadapanmu juga di manapun sekilas tentangmu terlintas di kepalaku.
Aku masih memelihara rasa, menyingkirkan lara dan merajut suka yang selalu menumpuk pada setiap napas-napas kegirangan. Takut kehilangan mulai tumbuh saat kau genggam tanganku dengan jemari lembutmu. Seharusnya tidak begitu, aku hanya memastikan kau tak akan pergi meninggalkanku dengan sebongkah guratan kisah kita yang menerjang bagai serombongan babi buta yang kelaparan.
Aku tenggelam dambut merahmu yang membiaskan cinta, mata sayumu yag sembunyikan luka, bibir merahmu yang membasahi pucatnya bibirku dan aroma tubuhmu yang menemaniku dalam setiap detak jantungku, sejurus kemudian aromamu yang menyelimuti segala uap dunia membisikkan padaku “semoga semu semua luka pada mata sayu itu”.
0
3.31.13.
couture-cures:
haha LOL!
1
3.31.13.
(Source: couture-cures)
1
3.25.13.
orangoing:
Town Map
3196
3.25.13.
Ada Sisi yang Mati
Aku merasa hidup kembali, seperti ada sel-sel yang sudah mati lalu diperbarui karena ada sel-sel yang baru terbentuk. Semua yang telah lalu benar-benar berlalu, namun selalu saja ada sisi gelap yang tak pernah menjadi terang atau terlalu takut dibuat terang sebagaimana sisi-sisi yang lainnya. Dalam jiwa yang hidup kembali ini tetap saja ada yang mati.
Setiap jengkal kebahagiaan pasti ada secuil kesedihan, setiap ladang kebanggaan pasti ada tanaman kekecewaan, begitupun setiap dunia cinta, pasti ada sebongkah pulau kebencian. Aku merasa ini tidak adil, ketika salah satu dominan, pasti yang lainnya tertindas. Ketika dua-duanya seimbang, terjadi kekacauan dalam pikiran: jalan mana yang harus kulalui? Sisi gelap ataukah terang? Sisi jahat atau baik? Atas dasar apa aku memilih? Untuk apa aku memilih? Bolehkah aku memilih keduanya tanpa menemukan sisi yang tertindas atau rasa-rasa yang seharusnya tidak kurasakan?
Kepala ini sudah penuh dengan segala bentuk yang tak beraturan, penyelesaian macam apa yang akan membawa kepala ini kepada ketenangan? Kontemplasi macam apa lagi yang harus terjadi? Pertengkaran bagian otak mana lagi yang harus mengorbankan satu sama lain? Aku sudah lelah mencapai segala keinginan yang belum terpenuhi, mungkin belum saat ini, namun aku belum bisa menemukan alasan yang tepat untuk segala yang telah terjadi. Apakah setiap kejadian harus dipertanyakan dan dipikir ulang seperti halnya pelajaran-pelajaran di sekolah yang menuntut kita mengerti akan semua aspek yang tercantum di dalamnya lalu kita akan di tes dalam ulangan beberapa pekan mendatang, jika ulangan tidak boleh mencontek, lalu persoalan kehidupan ini juga tidak boleh mencontek? Semacam bertanya apakah ada penghapus atau tidak kepada teman saja guru sudah menegur. Lalu bagaimana aku menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan yang hampir tiada jawabannya ini?
Akhirnya aku menyadari, ternyata memang semua kejadian harus dipikir ulang. Suatu teori pemikiran kritis menyatakan bahwa tingkatan pertama pada berpikir kritis adalah pengalaman yang dilanjutkan dengan interpretasi, jika menemui hambatan maka barulah kita sampai pada level analisa.
Ya, ternyata bukan hanya pada soal-soal ulangan demi mendapatkan nilai baik dan kepuasan namun juga pada kehidupan sehari-hari demi mencapai nilai baik dalam bentuk kepuasan dan apresiasi orang-orang sekitar. Bahkan diri sendiri pun perlu mengapresiasi apa yang telah dirinya lakukan untuk menjaga kestabilan berpikir dan kontrol hidupnya. Baiklah, sudah cukup banyak yang tertuang pada lembar hayal ini, sejujurnya masih banyak yang harus diuraikan satu-satu namun mungkin di lain waktu, masih ada bagian yang mati di dalam jiwa yang hidup kembali.
0
3.10.13.
untitled
Mari jatuh cinta kembali, merasakan kebahagiaan yang tak terduga sebelum hari ini. Warnai hasrat yang hampir mati, cegah sedih mengisi hati, biar rindu yang mengganti. Kita yang akan menjadi saksi bulan dan bintang berkawan lagi, awan hitam mendadak pergi, lalu matahari senang sekali saat kita berdua menjadi kekasih.
Sudahi saja kemarau yang kemarin, hujan berlebih menjadi hiburan kita sekarang. Biar saja sedihmu pergi, mari kita berpelukan ketika siang hari begitu terik dan saling menelanjangi ketika malam yang dingin tiba.
0
3.10.13.
Maaf
Maafkan aku ketika tulisan-tulisan kacanganku yang terbaca oleh mata-mata yang tak tahu arah, melantur dan tenggelam dalam sebuah tulisan kacangan tak tentu arah. Ini realita, hidup kita. Ini realita, bukan ekspektasi belaka. Aku dan tulisan kacanganku masih suka berkeliaran ke mana-mana.
Maafkan aku ketika tulisan-tulisan kacanganku membuat kau marah, gelisah, dan membuatmu gerah. Ini hanya tulisan-tulisan kacangan yang tak mau dipukul komentar, tak butuh ungkapan rasa amarah yang diutarakan dengan bibir gemetar, tak mau dibilang mengundang kesedihan dan kutukan-kutukan yang mengancam, Aku dan tulisan kacanganku sudah tak terpisahkan.
Maafkan aku ketika tulisan-tulisan kacanganku menusuk mata, dada, dan membuat pekak telinga. Ini hanya sederet kalimat-kalimat yang entah dibangun dari nyata atau hayal, ditulis entah sadar atau mengawang-awang, ditik cepat atau lambat, yang penting ini tulisan. Aku dan tulisanku memang tak tentu arah.
Maafkan aku tentang semua keji yang tertuang, marah yang meledak, binal yang terselip di antara kata, sedih yang menyeret manusia-manusia tanpa dosa ke relung gelisah, menjebaknya dan membuat berpikir hingga putus asa, Aku dan tulisan kacanganku juga tidak tahu bagaimana kami tercipta.
Maafkan aku jika sederet kalimat kacanganku menyeret memori yang terlanjur dibunuh, membawa kengerian seperti cerita-cerita hantu, menjadikan keindahan hancur berkeping-keping. Aku dan tulisan kacanganku seakan diciptakan untuk memanipulasi keadaan dan otak kalian.
Maafkan aku jika kalian terlanjur membacanya dan menemui kekosongan di dalamnya, hanya perih dan luka yang dibahasnya, kebahagiaan jarang ditemukan, karena kebahagiaan kurang menerjemahkan tulisan. Aku dan tulisan kacanganku memang bertemakan kesedihan dan pilu.
0
3.10.13.
Mengolah rasa
Di balik awan hitam terdapat bintang-bintang yang terang, bulan yang suka malu-malu, matahari yang terlalu angkuh, dan hujan yang tidak sabar ingin turun membasahi bumi. Mereka yang tersembunyi akan selalu indah bila muncul pada waktu yang tepat, begitu juga rasa ini.
Mengolah rasa butuh keahlian, jangan sampai berkurang, jangan sampai meledak. Jangan menggebu-gebu, jangan terburu-buru.
0
3.02.13.
Petir di luar sektor gelisah
Pernikahan adalah hal yang sakral, sesuatu yang bermakna sangat dalam. Aku memang belum menikah, umurku baru delapan belas tahun, namun ayah-ibuku telah menikah. Aku bukan ingin menggurui atau berkeluh kesah soal pernikahan yang amat rumit, yang baru kuketahui sebagian kecil dan aku baru diperkenalkan dengan bumbu-bumbu konflik.
Biasa, ketika teman mereka sudah menikah di usia belia karena ada makhluk kecil tak berdosa yang tercipta dari dosa. Biasa, ketika teman bercerita dan berfoto bersama anak dari temannya yang sebaya. Petir, ketika kau berada dalam lautan gelisah, habis tenaga dengan baju yang basah, ingin bermimpi indah namun yang kau temui adalah pengakuan akan menikah karena sudah mengandung bocah dengan sumringah. Petir, kawan. Tidakkah ada cara lain? Bagaimana bisa kau mengungkapkannya dengan sumringah sesuatu yang dianggap bencana? Baiklah, aku masih menganggap hal tersebut bencana. Mungkin bukan sepenuhnya orang percaya itu bencana, toh takaran bencana menurut masing-masing orang berbeda.
Aku tak mempermasalahkan kegelisahan yang sedang mencoba menata diri dan merasuk ke dalam pikiranku yang bolong-bolong saringannya, namun kata-kata dan ekspresinya indah seperti tak ada apa-apa. Kuanggap itu petir sebab aku terlalu terkejut dan tak berani berkata macam-macam. Untuk apa aku menambahkan kesedihan kepada orang lain, toh mereka juga punya kesedihan masing-masing, tergantung bagaimana cara mereka mengolah dan berkontemplasi dengan kesedihan mereka. Namun kawan ini gembira, sayang. Kawanku menikah bulan depan sementara aku baru saja tumbuh dan baru mulai belajar mengelola dan mengontrol kegelisahan. Kawanku menikah bulan depan sementara aku baru saja terlepas dari penyakit yang membuat hidungku ingusan. Kawanku menikah bulan depan sementara aku belum punya gambaran terlalu jelas mengenai masa depan. Mengapa, kawan? Apakah benar pernikahan itu menyenangkan?
Semoga saja.
0
1.07.13.
Ucap namaku kembali
Coba ucapkan namaku, sebut huruf demi huruf jangan ragu. Rasakan nafas yang menggelayuti bibirmu lebih dalam, hangat yang tak biasa, rasa yang menggelitik lidahmu, berlarian menuju otakmu dan membongkar sisi yang telah kau sembunyikan di balik perempuan itu.
Aku tahu, dia yang mendominasi isi kepalamu, gerak-gerikmu, langkahmu, hingga sekitarmu. Tunggu, coba dengar denyut jantungmu, letakkan jemarimu di atas denyut nadiku. Dengar… Mereka bersama. Aku memang pernah mengecewakanmu, membiarkanmu berdiri di depan pintu rumahku dengan badai yang hampir membunuhmu. Aku memang pergi, tapi untuk kembali. Kuperintahkan kau untuk menunggu, aku tahu kamu bukan budak yang menaati peraturanku. Aku bukan siapa-siapa, aku hanya seorang anak perempuan yang suka melawan ibunya dan berharap kamu kembali kepadaku karena aku masih menyimpan cinta yang takkan habis untukmu.
0