7.17.13.

-

Bercinta
Di atas lemari
Di bawah tempat tidur
Kita menari di atas tubuh silih berganti
Dan tak membiarkanku tidur
Hingga pagi bersama puncak menghampiri
Menebarkan aroma yang telah bercampur
Sebab kita tak tidur
Hingga wajah kita berseri
Sebab tungkai kita lemas hingga tak dapat berdiri
Aku ingin bercinta denganmu sampai hidup tak ada lagi

2

6.16.13.

2

Tak terasa senja telah menghampiri, padahal aku masih merindukan matahari.
Namun kini aku mengerti, mengapa semua harus dilewati— sebab kau datang
mengambil hati yang kukira sudah mati.
Hai pahlawan penarik hati, aku bahagia kau ada di sini, di dekatku,
di sampingku, di setiap nafasku, di setiap selku, dan menjadi bagian dalam hidupku.
Harus berapa bait puisi yang aku tuliskan untukmu agar kau tau betapa
berterimakasihnya diri ini kepadamu, pahlawanku?

Senyum buatan di wajahku telah kaumusnahkan, sayang. Kini aku memiliki
senyum abadi yang kau patri di atas wajahku atas nama cintamu.
Nyawaku, nyawa yang nyata, telah kembali dari pengembaraannya entah ke mana,
kini ia menetap bersamaku, mengambil alih dunia yang baru serta membawa semangat
baru juga menyayangimu tanpa perintah ataupun perkataan sambil lalu.

Aku tak dapat menguraikan rasa ini, rasa saat bersamamu, rasa memilikimu dalam
hidupku, aku hanya dapat berkata-kata seperti ini, tak berharap kau katakan bahwa
ini manis atau menyenangkanmu. Aku hanya menumpahkan sebagian kecil isi kepalaku
menyangkut eksistensimu di dalamnya. Aku tak sanggup mengatakan bahwa aku cinta padamu
sebab akupun tak mengerti apa makna cinta. Yang kutahu hanyalah aku ingin bersamamu tanpa
batasan waktu, sebab bagiku selamanya adalah kamu.

Teruntuk pria yang telah mengubah hidupku dan menghidupkan bahagia untukku

0

6.16.13.

1

Sebuah sinar menerobos retinaku, mencoba menghidupkan cahaya yang telah kaku. Mereka mencoba mengguncangkanku, membangunkanku dari kebahagiaan yang semu. Sedih, sedih itu bertanya “masihkah aku terasa? Aku lelah hinggap padamu, tubuh yang lemah dan tak pernah tertawa semenjak dibuat luka yang lama.” Sedih, sedih, aku memang tak menginginkanmu, bagaimana kau tetap berada di sini? Sudahlah pergi saja bersama gelap yang meninggalkan tawa keji, biar sinar itu menetap di sini, di tubuh yang sudah tak berbunga lagi. Sedih pergi.

Aroma manis dari dalam tubuhmu mulai menyerang di antara buku-buku yang tak laku sebab mereka terlalu kaku untuk masa kini, mereka tak lagi berguna seperti cerita yang telah lalu, tak perlu diketahui untuk jiwa-jiwa yang baru.

0

5.07.13.

Semoga Semu

Sebongkah senyuman masih berjejalan ingin segera menyembul di hadapanmu juga di manapun sekilas tentangmu terlintas di kepalaku.
Aku masih memelihara rasa, menyingkirkan lara dan merajut suka yang selalu menumpuk pada setiap napas-napas kegirangan. Takut kehilangan mulai tumbuh saat kau genggam tanganku dengan jemari lembutmu. Seharusnya tidak begitu, aku hanya memastikan kau tak akan pergi meninggalkanku dengan sebongkah guratan kisah kita yang menerjang bagai serombongan babi buta yang kelaparan.

Aku tenggelam dambut merahmu yang membiaskan cinta, mata sayumu yag sembunyikan luka, bibir merahmu yang membasahi pucatnya bibirku dan aroma tubuhmu yang menemaniku dalam setiap detak jantungku, sejurus kemudian aromamu yang menyelimuti segala uap dunia membisikkan padaku “semoga semu semua luka pada mata sayu itu”.

0

3.31.13.
couture-cures:

haha LOL!

couture-cures:

haha LOL!

1

3.31.13.

(Source: atridwp)

2

3.25.13.
orangoing:

Town Map

orangoing:

Town Map

3247

3.25.13.

Ada Sisi yang Mati

Aku merasa hidup kembali, seperti ada sel-sel yang sudah mati lalu diperbarui karena ada sel-sel yang baru terbentuk. Semua yang telah lalu benar-benar berlalu, namun selalu saja ada sisi gelap yang tak pernah menjadi terang atau terlalu takut dibuat terang sebagaimana sisi-sisi yang lainnya. Dalam jiwa yang hidup kembali ini tetap saja ada yang mati.

Setiap jengkal kebahagiaan pasti ada secuil kesedihan, setiap ladang kebanggaan pasti ada tanaman kekecewaan, begitupun setiap dunia cinta, pasti ada sebongkah pulau kebencian. Aku merasa ini tidak adil, ketika salah satu dominan, pasti yang lainnya tertindas. Ketika dua-duanya seimbang, terjadi kekacauan dalam pikiran: jalan mana yang harus kulalui? Sisi gelap ataukah terang? Sisi jahat atau baik? Atas dasar apa aku memilih? Untuk apa aku memilih? Bolehkah aku memilih keduanya tanpa menemukan sisi yang tertindas atau rasa-rasa yang seharusnya tidak kurasakan? 

Kepala ini sudah penuh dengan segala bentuk yang tak beraturan, penyelesaian macam apa yang akan membawa kepala ini kepada ketenangan? Kontemplasi macam apa lagi yang harus terjadi? Pertengkaran bagian otak mana lagi yang harus mengorbankan satu   sama lain? Aku sudah lelah mencapai segala keinginan yang belum terpenuhi, mungkin belum saat ini, namun aku belum bisa menemukan alasan yang tepat untuk segala yang telah terjadi. Apakah setiap kejadian harus dipertanyakan dan dipikir ulang seperti halnya pelajaran-pelajaran di sekolah yang menuntut kita mengerti akan semua aspek yang tercantum di dalamnya lalu kita akan di tes dalam ulangan beberapa pekan mendatang, jika ulangan tidak boleh mencontek, lalu persoalan kehidupan ini juga tidak boleh mencontek? Semacam bertanya apakah ada penghapus atau tidak kepada teman saja guru sudah menegur. Lalu bagaimana aku menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan yang hampir tiada jawabannya ini?

Akhirnya aku menyadari, ternyata memang semua kejadian harus dipikir ulang. Suatu teori pemikiran kritis menyatakan bahwa tingkatan pertama pada berpikir kritis adalah pengalaman yang dilanjutkan dengan interpretasi, jika menemui hambatan maka barulah kita sampai pada level analisa.

Ya, ternyata bukan hanya pada soal-soal ulangan demi mendapatkan nilai baik dan kepuasan namun juga pada kehidupan sehari-hari demi mencapai nilai baik dalam bentuk kepuasan dan apresiasi orang-orang sekitar. Bahkan diri sendiri pun perlu mengapresiasi apa yang telah dirinya lakukan untuk menjaga kestabilan berpikir dan kontrol hidupnya. Baiklah, sudah cukup banyak yang tertuang pada lembar hayal ini, sejujurnya masih banyak yang harus diuraikan satu-satu namun mungkin di lain waktu, masih ada bagian yang mati di dalam jiwa yang hidup kembali.

0

3.10.13.

untitled

Mari jatuh cinta kembali, merasakan kebahagiaan yang tak terduga sebelum hari ini. Warnai hasrat yang hampir mati, cegah sedih mengisi hati, biar rindu yang mengganti. Kita yang akan menjadi saksi bulan dan bintang berkawan lagi, awan hitam mendadak pergi, lalu matahari senang sekali saat kita berdua menjadi kekasih.

Sudahi saja kemarau yang kemarin, hujan berlebih menjadi hiburan kita sekarang. Biar saja sedihmu pergi, mari kita berpelukan ketika siang hari begitu terik dan saling menelanjangi ketika malam yang dingin tiba.

0

3.10.13.

Maaf

Maafkan aku ketika tulisan-tulisan kacanganku yang terbaca oleh mata-mata yang tak tahu arah, melantur dan tenggelam dalam sebuah tulisan kacangan tak tentu arah. Ini realita, hidup kita. Ini realita, bukan ekspektasi belaka. Aku dan tulisan kacanganku masih suka berkeliaran ke mana-mana.

Maafkan aku ketika tulisan-tulisan kacanganku membuat kau marah, gelisah, dan membuatmu gerah. Ini hanya tulisan-tulisan kacangan yang tak mau dipukul komentar, tak butuh ungkapan rasa amarah yang diutarakan dengan bibir gemetar, tak mau dibilang mengundang kesedihan dan kutukan-kutukan yang mengancam, Aku dan tulisan kacanganku sudah tak terpisahkan.

Maafkan aku ketika tulisan-tulisan kacanganku menusuk mata, dada, dan membuat pekak telinga. Ini hanya sederet kalimat-kalimat yang entah dibangun dari nyata atau hayal, ditulis entah sadar atau mengawang-awang, ditik cepat atau lambat, yang penting ini tulisan. Aku dan tulisanku memang tak tentu arah.

Maafkan aku tentang semua keji yang tertuang, marah yang meledak, binal yang terselip di antara kata, sedih yang menyeret manusia-manusia tanpa dosa ke relung gelisah, menjebaknya dan membuat berpikir hingga putus asa, Aku dan tulisan kacanganku juga tidak tahu bagaimana kami tercipta.

Maafkan aku jika sederet kalimat kacanganku menyeret memori yang terlanjur dibunuh, membawa kengerian seperti cerita-cerita hantu, menjadikan keindahan hancur berkeping-keping. Aku dan tulisan kacanganku seakan diciptakan untuk memanipulasi keadaan dan otak kalian.

Maafkan aku jika kalian terlanjur membacanya dan menemui kekosongan di dalamnya, hanya perih dan luka yang dibahasnya, kebahagiaan jarang ditemukan, karena kebahagiaan kurang menerjemahkan tulisan. Aku dan tulisan kacanganku memang bertemakan kesedihan dan pilu.

0